Kamis, 02 Juli 2009

Kamis, 02 Juli 2009 0

LOS ANGELES (AFP) – A video released Thursday showed Michael Jackson vigorously practicing a song-and-dance routine days before his death, supporting accounts he had been in good health.

In footage obtained by AFP, the pop legend performed at the Staples Center in Los Angeles on June 23, two days before he died, as he prepared for a 50-date set in London starting in July.

Jackson, while thin, is seen dancing with energy in a tightly choreographed sequence with a group of performers. Jackson sings on a headset and at one point pushes back his jacket to reveal his red shirt underneath.

In the footage, Jackson switches sharply in styles in a medley of some of his hits. The video starts with Jackson dancing wildly in front of a rock 'n' roll guitarist before a pause for dramatic effect.

Jackson then shifts to a snippet of "Billie Jean," one of his greatest hits, before singing, "They Don't Care About Us," one of his most controversial tracks in which he brought in a hip-hop influence.

The set ends with a sample of a car horn. The stage then fades to black as an outside voice instructs, "Hold for applause."

Associates of Jackson have described the 50-year-old pop star as being in good form, including at another rehearsal just hours before his death.

Jackson collapsed and died on June 25 at his rented Los Angeles mansion. Speculation has focused on whether Jackson was taking painkillers or other medication.

Jackson's voice coach Dorian Holley said Jackson was in an upbeat mood in the days before his death, joking around with his wardrobe and makeup staff.

"My friends call and ask, 'Was Michael sick? Was he weak? Was he ill?' It's the absolute opposite of that," Holley told CNN.

"He was very energetic, he was happy. He was even more playful than he normally was at rehearsal," he said.

Holley said Jackson, 50, did not show his age.

"I'm sure that he was in pain after some rehearsals. But I got to tell you something -- the guys and girls dancing with him were all in their 20s," he said.

"When Michael was on stage with them, there was only one person that you could watch and that was Michael Jackson," he said.

A similar account came from Kevin Mazur, who was attending the rehearsal sessions as a photographer.

"He was like an expectant father pacing up and down the stage," Mazur told Britain's Sun tabloid.

"He was just so focused. Between songs, he burst into laughter and joked around with his dancers and the director. I have never seen him so happy," Mazur said.

Jackson had planned a series of concerts at London's O2 Arena starting on July 13, part of a comeback for the King of Pop whose personal and financial life had sharply deteriorated in the past decade.

Concert promoters AEG Live, who released the video, are offering full ticket refunds for the concerts.

British media reports said about 50 million pounds (59 million euros, 83 million dollars) has been spent on 750,000 tickets.

Sabtu, 07 Maret 2009

Sabtu, 07 Maret 2009 0

CAN A CLONING DO IN HUMAN....???

Pada mulanya adalah biri-biri yang bernama Dolly, hasil teknik cloning yang dilakukan oleh pakar rekayasa genetika Ian Wilmut di Inggris. Dan sekarang sudah ada kambing, tikus dan sapi yang lahir dengan teknik cloning, yang menjiplak blueprint sel donornya. Makhluk baru yang dilahirkan dengan cara itu sama persis atau identik dengan karakteristik donornya.

Cloning adalah cara menciptakan makhluk hidup baru tanpa menggunakan sperma jantan dan telur betina, seperti yang biasanya terjadi secara alamiah.

Dalam kasus Dolly tadi, diambil sebuah inti sel yang berisi DNA dari biri-biri yang akan di clone, kemudian disuntikkan ke dalam telur biri-biri betina, yang intinya sudah dibuang. Telur yang intinya diganti tadi, diberi kejutan listrik untuk memulai proses pertumbuhannya menjadi embrio.

Setelah terjadi proses pembelahan sel yang dianggap cukup, embrio ditanamkan kembali kedalam rahim biri-biri betina, dimana embrio itu tumbuh dan kemudian lahir. Biri-biri yang diberi nama Dolly itu fisiknya sama persis dengan biri-biri donor, karena dia bukan merupakan campuran DNA donor dan DNA biri-biri betina yang melahirkannya.

Karena sukses yang diperoleh dalam teknologi cloning hewan menyusui sudah cukup maju, sekarang hanya soal waktu saja, sebelum halaman-halaman depan suratkabar melaporkan lahirnya bayi manusia hasil cloning. Atau, mungkin sudah ada bayi manusia seperti itu yang dilahirkan, tapi tidak atau belum diumumkan karena para dokter yang membuatnya tidak mau mendapat dampratan dari sebagian orang yang mengatakan cara pembuatan manusia seperti itu melawan kodrat alam.

Dr Panos Zavos, direktur Lembaga Andrologi Amerika di negara bagian Kentucky, dan istrinya, seorang dokter kandungan, telah membantu ribuan pasangan mendapatkan keturunan lewat teknologi bayi tabung, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut "in vitro fertilization".

Dalam proses ini, sperma sang suami dicampur dengan telur sang istri "in vitro" atau dalam tabung kaca, dan setelah tumbuh menjadi embrio, ditanamkan kembali ke dalam rahim sang istri atau perempuan lain yang disebut "ibu tumpang". Bayi yang lahir secara biologis adalah anak pasangan suami-istri tadi, walaupun dia dilahirkan dari rahim perempuan lain.

Kata dr Zavos, teknik cloning sebetulnya tidak banyak beda dengan teknik pembuatan "bayi tabung". Tapi apakah teknologi ini sudah cukup aman untuk dipraktekkan pada manusia? Dalam kasus cloning yang pertama, telah diadakan 277 kali percobaan yang gagal, sebelum akhirnya lahir Dolly sang biri-biri yang sehat dan lucu. Diantara proses yang gagal itu terdapat sejumlah pertumbuhan yang tidak normal, sehingga harus dimusnahkan.

Tapi bagaimana kalau yang di clone itu manusia, dan terjadi kelainan dalam pertumbuhan embrionya? Kalau harus dimusnahkan, sebagian orang mengatakan, itu pembunuhan.

Tahun 1997, Presiden Clinton melarang penggunaan dana pemerintah federal untuk riset cloning manusia. "Meng-clone manusia adalah suatu praktek yang berbahaya bagi calon bayi yang akan dilahirkan, dan tidak bisa diterima oleh masyarakat." Katanya. Tapi masyarakat yang mana?

Dr Zavos mengakui bahwa teknologi cloning yang ada sekarang belum sempurna 100 persen, tapi katanya, "ini adalah ongkos yang harus kita bayar untuk mengembangkan teknologi baru."

Siapa yang akan mendapat keuntungan dari cloning manusia? Mereka adalah orang-orang yang ingin punya keturunan, tapi karena satu dan lain hal tidak bisa mendapat anak dengan cara yang biasa. Memungut anak adalah satu solusi, tapi anak itu secara biologis adalah anak orang lain. Dengan cloning, bisa dipastikan sang anak secara biologis berasal dari ayah atau ibunya, yaitu orang yang menyumbangkan sel DNA-nya.

Dalam waktu dekat ini, dr Zavos dan sebuah tim dokter internasional akan mengadakan pertemuan di Roma untuk menyusun garis besar dan petunjuk untuk meng-clone manusia. Ini adalah langkah pertama, sebelum cloning manusia yang sesungguhnya dilakukan di sebuah negara yang belum disebut namanya. Tim dokter internasional tadi, kata dr Zavos, akan memilih pasangan-pasangan sukarelawan yang ingin mendapat keturunan.

Kalau nantinya manusia hasil cloning sudah lahir, apakah dia akan sama persis dengan donornya? Secara fisik, ya, tapi cara berpikir dan tingkah laku, serta keahliannya akan tergantung dari pendidikan dan pengalaman yang didapatnya ketika dia tumbuh dari bayi mungil sampai menjadi orang dewasa.


Sabtu, 21 Februari 2009

A Big Snake Swim In The River In Kalimantan

Sabtu, 21 Februari 2009 0

BARU-BARU ini, muncul sebuah foto udara yang membuat heboh Malaysia. Seekor ular raksasa berenang di Sungai Baleh, Sibu, Serawak, bagian utara Kalimantan yang masuk wilayah Malaysia.

Sebuah foto ular raksasa terlihat berenang melenggak-lenggok di sebuah sungai tropis yang dikelilingi oleh hutan gambut. Ular berwarna hitam itu sangat besar, hampir memenuhi sungai yang terletak di tengah-tengah hutan rawa yang rimbun. Air beriak di kiri kanannya. Kabarnya, foto itu diambil dari sebuah helikopter, 11 Februari 2009 lalu.

Foto itulah yang menjadi perdebatan luas di Malaysia saat ini. Kalimantan memang memiliki ular-ular raksasa. Namun selama ini, ular yang besar yang baru ditemukan adalah sejenis sanca atau python atau masyarakat Kalimantan menyebutnya ular sawah, yang panjangnya belasan meter.

Namun ular yang terlihat di foto dan beredar luas di internet, termasuk Youtube, jauh lebih panjang dan besar dibanding temuan python selama ini. Diperkirakan panjangnya 100 kaki atau sekitar 33 meter.

Gambar tersebut diambil oleh anggota tim wilayah bencana banjir yang kemudian diterbitkan oleh Utusan Sarawak, sebuah koran lokal, pekan lalu. New Straits Times di Kuala Lumpur, juga memuat foto tersebut yang kemudian dirilis oleh The Telegraph, Inggris.

Ada juga yang tidak mempercayai foto itu dan menganggapnya rekayasa semata. Hal ini karena terlalu jauhnya pengambilan gambar ular tersebut. Benar atau tidak, foto itu sudah membuat masyarakat di sekitar Serawak, khususnya Sibu, ketakutan. Sebab, sungai itu merupakan urat nadi transportasi masyarakat selama ini.

Berdasarkan legenda yang hidup di masyarakat setempat, memang dipercaya tentang adanya anaconda di kawasan tersebut yang bernama Nabau. Menurut kepercayaan, Nabau merupakan ular dengan panjang 80 meter dengan kepala naga dan tujuh lubang hidung. Masyarakat desa yang tinggal di sungai Baleh Borneo mempercayai makhluk mistik tersebut. Selain itu, masyarakat memang sering melihat ular-ular besar di kawasan itu.

Nah, pertanyaannya, bila foto itu asli, apakah ular yang terlihat itu sejenis python atau anaconda? Hingga kini memang belum ditemukan adanya anaconda di Kalimantan, kecuali dalam film Anaconda: The Hunt For The Blood Orchid yang laris itu.

Rekor ular terpanjang saat ini memang anaconda (eunectes) dari Amazone. Anaconda merupakan keluarga boa. Panjang anaconda yang baru ditemukan adalah 50 kaki, namun para ilmuwan percaya ada anaconda yang panjangnya 80 kaki, bahkan 100 kaki dari temuan kulit ular tersebut oleh sebuah ekspedisi ilmuwan Inggris tahun 1992. Dalam keluarga anaconda, menurut situs lingkungan Mongabay, yang terbesar adalah anaconda hijau (Eunectes murinus). Panjangnya mencapai 43 meter.

Python Asia adalah ular terpanjang kedua. Ilmuwan menyebutnya Asiatic Reticulated Python (python reticulatus). Python terpanjang yang ditemukan di kawasan Kalimantan panjangnya 33 kaki, dan merupakan rekor dunia sanca terpanjang saat ini. Para ilmuwan percaya panjang python bisa mencapai 50 kaki atau sekitar 15 meter.

Bedanya, anaconda lebih langsing dan ahli berenang. Sementara python lebih gemuk dan hanya suka kelembaban, bukan di air. Anaconda menggigit mangsanya sampai mati sebelum menelan, sementara python menggunakan kekuatannya dengan membalut mangsa sampai tulang-belulangnya hancur atau tak bergerak lagi, kemudian ditelan bulat-bulat.

Awal Februari, para ilmuwan menemukan fosil ular seberat sebuah mobil kecil. Ular itu diperkirakan bisa melumat binatang seukuran sapi. Monster sepanjang 45 kaki bernama Titanoboa sangat besar dan hidup dengan memakan buaya dan kura-kura raksasa. Beratnya mencapai 1,25 ton. Ia biasa merayap di sekitar hutan-hutan tropis Amerika Selatan 60 tahun silam.

Source : Yahoo

HOSTORY OF BIOTECHNOLOGY

Although not normally thought of as biotechnology, agriculture clearly fits the broad definition of "using a biological system to make products" such that the cultivation of plants may be viewed as the earliest biotechnological enterprise. Agriculture has been theorized to have become the dominant way of producing food since the Neolithic Revolution. The processes and methods of agriculture have been refined by other mechanical and biological sciences since its inception. Through early biotechnology, farmers were able to select the best suited and highest-yield crops to produce enough food to support a growing population. Other uses of biotechnology were required as crops and fields became increasingly large and difficult to maintain. Specific organisms and organism by-products were used to fertilize, restore nitrogen, and control pests. Throughout the use of agriculture, farmers have inadvertently altered the genetics of their crops through introducing them to new environments and breeding them with other plants--one of the first forms of biotechnology. Cultures such as those in Mesopotamia, Egypt, and India developed the process of brewing beer. It is still done by the same basic method of using malted grains (containing enzymes) to convert starch from grains into sugar and then adding specific yeasts to produce beer. In this process the carbohydrates in the grains were broken down into alcohols such as ethanol. Ancient Indians also used the juices of the plant Ephedra vulgaris and used to call it Soma. Later other cultures produced the process of Lactic acid fermentation which allowed the fermentation and preservation of other forms of food. Fermentation was also used in this time period to produce leavened bread. Although the process of fermentation was not fully understood until Louis Pasteur’s work in 1857, it is still the first use of biotechnology to convert a food source into another form.

Combinations of plants and other organisms were used as medications in many early civilizations. Since as early as 200 BC, people began to use disabled or minute amounts of infectious agents to immunize themselves against infections. These and similar processes have been refined in modern medicine and have led to many developments such as antibiotics, vaccines, and other methods of fighting sickness.

In the early twentieth century scientists gained a greater understanding of microbiology and explored ways of manufacturing specific products. In 1917, Chaim Weizmann first used a pure microbiological culture in an industrial process, that of manufacturing corn starch using Clostridium acetobutylicum, to produce acetone, which the United Kingdom desperately needed to manufacture explosives during World War I.

The field of modern biotechnology is thought to have largely begun on June 16, 1980, when the United States Supreme Court ruled that a genetically-modified microorganism could be patented in the case of Diamond v. Chakrabarty. Indian-born Ananda Chakrabarty, working for General Electric, had developed a bacterium (derived from the Pseudomonas genus) capable of breaking down crude oil, which he proposed to use in treating oil spills.

Revenue in the industry is expected to grow by 12.9% in 2008. Another factor influencing the biotechnology sector's success is improved intellectual property rights legislation -- and enforcement -- worldwide, as well as strengthened demand for medical and pharmaceutical products to cope with an ageing, and ailing, U.S. population.

Rising demand for biofuels is expected to be good news for the biotechnology sector, with the Department of Energy estimating ethanol usage could reduce U.S. petroleum-derived fuel consumption by up to 30% by 2030. The biotechnology sector has allowed the U.S. farming industry to rapidly increase its supply of corn and soybeans -- the main inputs into biofuels -- by developing genetically-modified seeds which are resistant to pests and drought. By boosting farm productivity, biotechnology plays a crucial role in ensuring that biofuel production targets are met.

Source : Google

Sabtu, 14 Februari 2009

Sabtu, 14 Februari 2009 0
NASIR'S IDENTITY

Me.... TyR@Nt_ReX, from this blog want to tell my opinion to all people who open this blog.....
For all people who open this blog, i hope you can share your comment to my blog, and please give me some information about your country, if you are the "TyR@Nt_ReX" Lovers........

Sorry if i can't give u the new news that happened in tih world, but i'm try 2 find the hot news that happened in this world during this year, next year, and every year...



From : Ncyr

Sabtu, 07 Februari 2009

Sabtu, 07 Februari 2009 1
WELCOME TO TyR@Nt-ReX


 
tyrant_rex ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates